Mikrotik – Queue Tree

Ok pada artikel kali ini saya akan membahas fitur Queue Tree pada mikrotik

Fitur ini kurang lebih sama dengan simple queue pada artikel sebelumnya, sama – sama digunakan untuk melakukan manajemen bandwith untuk client

Gambar perbandingan antara simple queue dan queue tree

simple queue -> sebelah kiri

queue tree -> sebelah kanan

Bisa dilihat diatas dalam pembuatan rule, queue tree lebih mudah untuk dibuat

Simple Queue digunakan jika ingin membuat rule limitasi dengan interface dan IP dengan mudah, yang mana dapat dibuat dengan cepat

Queue Tree digunakan ketika ingin membuat rule limitasi yang lebih mendetail lagi seperti protocol dan port

Queue Tree biasanya digunakan apabila client yang ingin dilimit ada berbagai divisi atau bisa dibilang group, yang mana kita tidak hanya bisa melimit user tetapi bisa juga pada sebuah group, karena dengan konsep hierarki yang digunakannya (HTB -> Hierarchical Token Bucket)

~ Cara pembuatan rule Queue Tree ~

Sebelumnya berikut sedikit penjelasan parameter pada queue tree
Jadi parameter parent didalam queue tree ini penggunaannya agak sedikit berbeda, jika rule yang dibuat adalah rule paling atas atau rule parent teratas maka parent disini adalah interface tempat paket keluar, selanjutnya bila ingin menambahkan rule child maka parentnya adalah nama rule yang ingin dijadikan parent

Ada juga parameter priority yang mana memengaruhi pembagian bandwith pada client, yang prioritynya terkecil akan diprioritaskan untuk mendapatkan bandwith yang dapat mencapai parameter max limitnya, priority ini bekerja pada rule paling bawah, tapi tetap bergantung pada parameter max limit dibagian parent, karena jika max limit pada parent sudah dicapai maka tetap saja walaupun priority kecil tetap hanya mendapatkan banwith pada parameter limit at

Berbeda dengan simple queue, pada queue tree tidak disediakan parameter target IP client, melainkan dengan membuat rule mangle packet mark

Pertama – tama buat dulu rule mark connection
Disini saya coba limit bandwith upload dan download saja, dalam pengisin src dan dst address bisa diisi satu IP, satu subnet, ataupun range IP

Setelah itu buat saja mark packetnya lagi

Upload
Setelah buat rule mangle tinggal buat saja rule Queue nya

Rule dibawah hanya untuk mencoba limitasi saja, client yang dilimit adalah 1 subnet, untuk interface yang mengarah keluar pada upload adalah wlan1 yang terkoneksi internet sedangkan jika download adalah ether2 yang mengarah ke lokal

Normal throughput
Setelah dilakuakan limitasi
Jika rule ingin dikembangkan atau bisa dibilang ditambah rule child, maka rule teratas tidak menggunakan packet mark

Contoh rule yang menerapkan konsep hierarki
Ok itu saja catatan di hari ini, mohon maaf atas segala kekurangannya, semoga artikel ini bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu STB OPENWRT

Layer7 Protocol SpeedTest untuk MikroTik

TES